JAKARTA — Megaroket Starship kepunyaan SpaceX sukses menembus orbit Bumi untuk kali pertama serta menerbangkan 26 unit satelit sebelum jatuh di perairan Samudra Pasifik. Tonggak sejarah krusial ini menjadi lompatan besar bagi armada antariksa dalam tahap riset tersebut, sekaligus fondasi utama realisasi visi besar Elon Musk.
Wahana kolosal berbalut kelir hitam perak dengan tinggi melampaui 120 meter itu mengudara dari fasilitas peluncuran SpaceX di Texas pada Senin (28/9/2026) pagi, membawa sasaran menjelajahi orbit dan mengitari Bumi kurang lebih selama rentang waktu 10 jam.
Usai pelepasan pendorong Super Heavy serta pendaratannya yang terlaksana tanpa cela, komponen atas Starship berhasil melesat ke orbit—kendati sempat terganjal kendala teknis pada mesin yang memicu tanda tanya besar terkait kelangsungan misi tersebut.
"Starship sudah berada di orbit," tutur petugas dari regu peluncuran dalam tayangan siaran langsung, diiringi gegap gempita sorak perayaan segenap kru SpaceX yang berada di lokasi peluncuran.
Selang beberapa menit kemudian, wahana angkasa luar tersebut mulai mengorbitkan armada satelit Starlink generasi anyar guna memperbanyak susunan konstelasi internet pemancar data skala raksasa yang menjadi tulang punggung pemasukan korporasi terbuka tersebut.
Kala durasi penerbangan menginjak durasi sekitar tiga jam, jajaran teknisi SpaceX lantas mengambil keputusan strategis guna mengarahkan kendaraan keluar jalur orbit menuju titik pendaratan air di Samudra Pasifik.
Dokumentasi siaran langsung memperlihatkan detik-detik fase atas roket menukik melintasi atmosfer Bumi secara vertikal, disusul reaktivasi propulsi mesin guna meredam kelajuan penurunan sesaat sebelum mendekati batas permukaan samudra.
Begitu mendarat tegak di air, badan Starship condong ke samping, jatuh terhempas, lantas musnah terlahap ledakan hebat.
Elon Musk mematok target jangka panjang agar sistem Starship kelak dapat dipakai ulang dalam jeda singkat lewat mekanisme pendaratan pada konstruksi derek khusus untuk mencegat wahana sebelum mencium tanah maupun laut.
Rintangan Teknis Berikutnya
Menyusul bertahun-tahun masa pengujian intensif di kawasan Texas, SpaceX pertama kali menerbangkan Starship berkonfigurasi utuh pada 2023, seraya konsisten menerapkan serangkaian modifikasi berdasarkan evaluasi capaian serta kegagalan pada uji coba sebelumnya.
Kendati demikian, ganjalan teknis masif masih menanti sebelum Starship sanggup mewujudkan ambisi Musk mencapai Bulan dan Mars—termasuk membuktikan efektivitas sistem transfer bahan bakar secara mandiri di orbit Bumi.
Di samping itu, badan antariksa NASA menggantungkan harapan pada rancangan modifikasi wahana Starship demi memulangkan kembali barisan astronaut Amerika Serikat ke daratan Bulan.
Siklus Penundaan Misi
Rancangan semula sesungguhnya memproyeksikan roket menyelesaikan lintasannya di Samudra Pasifik pasca merampungkan enam putaran orbit penuh, namun pada praktiknya wahana hanya sukses menyelesaikan dua kali putaran mengelilingi planet Bumi.
Pada sisi lain, modul pendorong tingkat satu berukuran raksasa mendarat di lepas pantai Texas karena SpaceX tidak berupaya memulangkan komponen tersebut ke daratan fasilitas peluncuran.
Sebelumnya, tim perusahaan telah sukses mencegat kepulangan pendorong menuju pangkalan memanfaatkan sepasang lengan mekanik penangkap pada instalasi peluncur yang dikenal dengan sebutan "chopstick".
Meskipun fase perancangan Starship kerap terhambat penundaan jadwal berulang dan salah satu entitas antariksa China mulai menorehkan pencapaian riset roket terbarukan, SpaceX tetap memimpin industri global mengandalkan armada Falcon serta prinsip keberanian menanggung risiko.
Sebagai wujud supremasinya, uji jalan Starship segera disambung tiga misi antariksa SpaceX lainnya dalam pekan yang sama, termasuk pengiriman awak astronaut menuju laboratorium Stasiun Luar Angkasa Internasional.
(Rahman Asmardika)
